Hai gais, ini nih cerpen yang mau aku share ke kalian. Sorry telat yaa, soalnya busy busy bingit -_- hufftt...Oke deng, daripada nunggu lama, mending langsung aja yuk. Cap to the Cus, Capcus ;;)
***
Hari
ini hari Minggu. Aku tahu, ini hari yang tepat untuk berlibur. Karena hari ini
hari pertama liburan akhir tahun. Melihat anak – anak sekitar kompleks yang
sibuk membicarakan liburannya, atau melihat rumah – rumah yang kosong karena
ditinggal penghuninya mudik, tak membuatku ingin ikut berlibur juga. Memang,
rutinitasku padat akhir – akhir ini. Namun, entah kenapa aku tak mau pergi
kemanapun. Aku hanya ingin bersantai di rumah sambil mendengarkan radio yang
sedari tadi kuputar, ditemani timeline twitter, dan secangkir kopi, tak lupa,
hujan. Membuatku
mengingatkan suatu peristiwa yang memulai semua ceritaku kini. \(´ー`)┌
***
Liburan
akhir tahun tiba. Membuatku dan teman – temanku
gembira. Mengingat ujian – ujian yang baru minggu lalu kami lewati.
Nilai di raport ku memang tidak terlalu bagus, tapi minimal, aku bisa
mempertahankan peringkatku. Begitu kata mamaku. Dan liburan membuat kami
tenang, dan senang tentunya. Waktu yang sangat tepat untuk merefresh pikiran
kami. Dan melupakan tugas untuk sejenak.
Liburan
kali ini, papa mengajak kami ke sebuah tempat
yang sangat indah, katanya. Puncak namanya. Aku sangat tidak sabar untuk
pergi kesana. Namun, berbeda dengan kakakku, Damar. Dia sangat cuek dan tidak
memperdulikan kami yang sedari tadi sibuk packing, karena kami akan menginap.
Dia sangat tidak menikmati liburan kali ini, entah kenapa. Saat packing pun,
dia tidak banyak bicara dan tidak membawa banyak baju seperti aku, yang
segalanya harus dibawa, karena aku tidak mau ada yang terlewat. Tapi dia ? Dia
hanya membawa satu pasang baju, charger, dan headphone. Aneh, ,menurutku.
“Kok
cuman segitu sih barang bawaannya, kak?”, tanyaku penasaran.
“Emang
masalah buat lo ? Cuman ini yang gue butuhin kok. Kalau ada yang kelewat,
tinggal beli aja kan, gampang. Lagian, gue juga gak niat kok liburan. Malesin
deh. Kalu bukan karena takut disini sendirian, gue gak bakalan ikut deh”,
jawabnya.
“Dih..kakak.
Aneh”, balasku.
Setelah
semua siap, kami pun berangkat.
“Pah,
kita jadi ke Puncak nih?”, Tanya Kak Damar di tengah perjalanan
“Iya,
memangnya kenapa?”, Tanya papah
“Ng…emang
bakal seru yah? Ini kan musim hujan pah”
“Bogor
kan kota hujan? Mau musim hujan, mau musim kemarau. Disana hujan terus kok”
“Hhhh….ya
udah deh, aku ikut aja”
Aku
aneh sama Kak Damar. Daritadi, dia selalu risih dengan perjalanan kami. Mungkin
ada yang tidak beres dengan hatinya. Ya Allah, lindungilah kami selama
perjalanan, pintaku.
Malam
mulai tiba, dan kami sudah hampir sampai di villa pesanan kami. Tinggal 2
tikungan lagi. Hingga tiba – tiba, di tikungan pertama, seorang anak kecil
melintas sambil berlari dan membuat papah kaget. Ia membanting stir dan
akhirnya mobil kami menabrak sebuah pohon besar. Dan semua mulai gelap
dihadapanku.
***
Setitik
cahaya terlihat olehku. Aku tak tahu aku dimana, namun disana kulihat seorang
dokter, dan Kak Damar.
“Raline,
kamu sadar?”, Tanya Kak Damar tiba – tiba.
“Hmm..”,
pandanganku masih belum jelas.
“Kak…”
“Iya,
apa Raline?”, Tanya Kak Damar histeris
“Aku
dimana ya?”
“Kamu
di rumah sakit”
Aku
? Di rumah sakit ? Kenapa? Pikiranku mulai mengingat – ngingat. Kejadian apa
yang telah membuatku hingga terbaring disini. Aku ingat sekarang. Seorang anak
kecil. Berlari. Dan sebuah pohon besar. Mama? Papa? Dimana mereka? Harusnya
mereka ada disini sekarang?
“Oh…Mama,
Papa mana kak?”
“Mereka..”
***
Aku
baru saja pulang dari pemakaman dekat rumahku. Menengok kedua orangtuaku
disana. Memang, setelah kecelakaan itu, mama dan papa meninggal. Pertama kali
aku mendengarnya, aku memang sangat terpukul, namun beberapa hari kemudian, aku
mencoba menerima takdir yang Allah berikan. Memang sudah seharusnya, Raline,
kata Kak Damar waktu itu. Kaki kananku patah, dan diambutasi. Sejak itu, aku
koma 2 minggu, dan Kak Damar lah yang mengurus semuanya. Kini, kami hanya berdua.
Dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya dengan kondisiku yang seperti ini.
Aku tak tahu apakah aku masih bisa sekolah ? Siapa yang akan mengantar jemputku
dengan keadaan yang seperti ini? Sedangkan liburan, juga sudah berakhir. Dan
kini, aku absen selama hampir 2 minggu. Teman – temanku dan teman – teman Kak
Damar juga sudah sering datang kesini., Sekedar untuk menengok dan berbela sungkawa. Aku jadi kasihan pada
Kak Damar, ia jadi berhenti bekerja karena aku harus masih mendapatkan
perawatan di rumah. Dan kini, tabungan kami juga semakin menipis. Nenekku yang
berada di Yogya mengajak kami untuk tinggal bersamanya. Dan saat aku bertanya
pada Kak Damar, ia bilang, ia menyetujuinya. Ia memutuskan agar aku pindah
sekolah disana, karena jika disana, kami tidak akan terlalu repot karena ada Bi
Inah, pembantu Nenek, yang akan merawatku. Dan rumah ini ? Nenek bilang, lebih
baik kami menjualnya, baiklah, kami menuruti saran Nenek, karena kami yakin,
orangtua lebih tahu apa yang harus kami lakukan saat ini.
Setelah
mengurus semuanya, kami pun siap pindah ke Yogya. Meninggalkan kota kembang
yang menjadi saksi cerita kami selama ini. Dan aku akan kembali lagi, entah
kapan.
***
Kereta
agrobisnis yang kami tumpangi mengajak kami menikmati pemandangan karya Tuhan
Yang Maha Kuasa yang sangat hebat. Butuh waktu 12 jam untuk sampai ke kota
gudeg itu. Aku bertanya-tanya, bagaimana nanti aku disana. Akankahkutemuiteman
– teman seperti di Bandung? Hhh…mungkin.
***
8 tahun kemudian …….
Aku
sudah lulus SMA, dengan predikat siswa terbaik. Walaupun dengan kondisi fisik
yang kurang, namun tidak mengalahkan semangat juangku selama ini. Dan kini,aku
sudah bekerja di sebuah yayasan social
di Yogyakarta, sebagai relawan bagi anak – anak terlantar dan anak
kurang lainnya sepertiku. Nenek sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Dan kini,
hanya ada kami dan Mbak Rani serta keluarganya, bibi kami. Kak Damar sekarang
sudah menikah. Ia tidak tinggal disini, tapi di kompleks lain.
Pagi
ini, aku sedang berada di Malioboro, menuju tempatku bekerja, diantar Mas Jono,
supir pribadi keluarga Nenek. Hari ini tampak berbeda dengan hari lainnya. Di
tempat kerjaku, aku melihat sesosok anak asing.
“Din,
itu anak baru?”, tanyaku pada Dinda rekan kerjaku.
“Iya,
namanya Sheline, hampir sama denganmu ya? Umurnya baru 14 tahun. Ia pergi
merantau. Walaupun aku juga gak percaya sih, masa ada anak SMP nyari uang, jauh
lagi.”
“Emang
dia darimana?”
“Katanya
dari Bogor”
“Hah?
Terus dia kesini mau apa?”
“Ya…mungkin
dia belum tahu kota Yogya itu seperti apa. Kebetulan tadi malem si Iyem nemuin
dia di trotorar, jadi dia bawa kesini deh”
“Oh..gitu.
Oke deh, aku samperin yah”
“Okeesiip”
Aku langsung menghampirinya. Dia terlihat sangat berbeda dengan yang lainnya. Rambut panjang yang tergerai, lesung pipit yang manis, kulit kuning langsat, dan bola mata yang hitam. Terlalu cantik untuk seorang perantau. Kuhampiri dia, dan aku mulai bertanya-tanya padanya.
“Hai…kamu anak baru disini? Kenalin, nama kakak Raline, kamu boleh panggikl kakak apa saja, asal jangan monyet yah. Hehe..”, kataku memperkenalkan diri dengan ramah sambil mengayuh kursi roda ku. Semua relawan disini memang harus ramah, namanya juga yayasan social, harus berhati baik tentunya.
Aku langsung menghampirinya. Dia terlihat sangat berbeda dengan yang lainnya. Rambut panjang yang tergerai, lesung pipit yang manis, kulit kuning langsat, dan bola mata yang hitam. Terlalu cantik untuk seorang perantau. Kuhampiri dia, dan aku mulai bertanya-tanya padanya.
“Hai…kamu anak baru disini? Kenalin, nama kakak Raline, kamu boleh panggikl kakak apa saja, asal jangan monyet yah. Hehe..”, kataku memperkenalkan diri dengan ramah sambil mengayuh kursi roda ku. Semua relawan disini memang harus ramah, namanya juga yayasan social, harus berhati baik tentunya.
“Hahaha…”,
ia malah tertawa.
“Lho..kok
ketawa? Ada yang lucu yah?”, kataku cemberut
“Iya,
kakak ini lucu, imut deh”,
“Memang
begitu kenyataannya, kamu juga kok. O yah, nama kamu siapa?”
“Namaku
Sheline, Tante”
“Oh…sheline
yah. Kamu darimana sayang?”
“Aku
daru Bogor Tante”
“Kamu
mau apa kesini? Kok jauh – jauh kesini?”
“Mau
nyari duit, tante”
“Emang
Ayah Ibu kamu kemana?”
“Mereka
ada disana, cuman mereka jahat sama Sheline, mereka sering marahin Sheline,
mereka juga sering pukul Sheline, nih bekasnya. Jadi Sheline kabur aja.”
“Aduh..
kasian kamu yah. Terus gimana kalau orangtua kamu nyariin?”
“Hmm..gak
tau tuh. Mungkin nanti aku pulang kampung deh tan”
“Oke
deh kalau itu mau kamu”
Begitulah
awal pertemuanku dengannya. Ia sangat ramah, mudah bergaul, dan sangat polos.
***
Aku
dan Sheline sudah sangat dekat. Ia seperti adik ku sendiri. Dari sekian anak
yang ada, hanya ia yang paling kenal denganku, bahkan kebiasaanku, rumahku,
sampai Mas Jono, Bi Inah, Mbak Rani, dan yang lainnya. Ia sering bermain ke
rumahku bersama anak lainnya, namun hanya ia yang paling menonjol diantara
mereka. Ia juga sering membantu ku atau keluargaku yang lainnya kalau Lebaran
Idul Fitri. Entah kenapa ia bisa membuatku melupakan sejenak keresahan dan
kegundahan hatiku.
Hari
sudah sore, sudah pukul 3. Namun, aku belum mau beranjak dari kursi ini didepan
teras yayasan . Aku masih ingin membayangkan potongan – potongan kejadian sejak
aku kecil. Hingga potongan pahit itu datang. Peristiwa 9 tahun yang lalu. Yang
membuat aku seperti ini. Kalau boleh jujur, aku belum bisa memaafkan anak kecil
itu. Anak kecil dengan rambut sepunggung dan boneka kelincinya itu. Di tikungan
pertama sebelum villa kami. Hhh…bagaimana bisa yaAllah? Aku ingin menemui anak
itu sekarang juga. Inikah jawaban dari keresahan Kak Damar waktu itu? HHH….
“tante
sudah makan?”
Suara
itu mengagetkanku. Sheline.
“Sudah”,
aku segera menghapus airmata yang menggenang di pelupuk mataku.
“Tante
kenapa? Kok sedih? Cerita dong sama Sheline”
“Hmm..tante
nggak sedih kok. Tante cuman kelilipan. Daripada tante yang cerita, mending
Sheline aja yang cerita, cerita tante itu garing, beda sama cerita Sheline yang
lucu-lucu itu. Sekarang, tante pengen Sheline certain suasana rumah Sheline
dulu, yang detail ya, sama keluarga kamu nya”, pintaku tiba-tiba. Aku tahu, ia
tak pernah ragu menceritakan keluarganya, walaupun itu menyedihkan, menurutku.
Tapi ia selalu bersemangat menceritakannya.
“Oke
deh, Sheline aja yang cerita. Jadi, rumah Sheline yang dulu itu gede, cuman gak
terlalu gede sih, cuman seluas yayasan ini. Tapi, disana ada kolam ikan, ada
perosotan juga, ada ayunan, rumah Sheline terbuat dari kayu yang bagus,
warnanya coklat. Dan pemandangannya indah banget, cuman jalannya meliuk-liuk,
banyak tikungan. Kalau tante mau ke rumah Raline, tante harus melewati 2
tikungan terakhir. “
Dua
tikungan? Terakhir? Aku semakin penasaran.
“Terus?”
“Nah,
ayah Sheline, kerjanya buka warung. Tapi nyewain villa juga. Villa nya gede
banget, kayak hotel. Villa itu ada disamping rumah Sheline. Kalau bandingin
villa itu sama rumah Sheline sama villa nya, bedanya jauh banget, kayak gubug
dan istana. Di halamannya, ada bunga bougenville, indaahh banget”
“Banyak
wisatawan yang mau nyewa rumah itu. Tapi, gak tau kenapa, seorang penyewa gak
jadi nyewa villa waktu itu. Padahal ia udah boking lo tan. Kalau ayah Sheline
itu garang banget Tan, dia sering marahin Sheline tanpa sebab, dia juga sering
mukul Sheline, kumisnya tebel, matanya menakutkan, pokoknya muka garang aja
deh. Ibu juga sama, sukanya marahin Sheline terus, Cerewet.”
“Eh,…mereka
kan tetep orangtua kamu”
“Iya
sih tan, tapi Sheline juga kan anaknya, butuh kasih sayang, bukan cacian”
“Iyaa..tante
tahu. Segarang-garangnya mereka, pasti mereka punya tujuan yang baik buat
kamu”, nasihatku.
“Iya
tan”
“Itu
bekas luka apa?”, tanyaku sambil menunjuk betisnya, karena ia hanya menggunakan
celana selutut waktu itu.
“Oh..ini
bekas luka kena ranting”
“Lho
kok bisa?”
“Sebenernya
luka ini udah lama tan, udah 9 tahun yang lalu, tapi tetep ada”
“9
tahun yang lalu? Kenapa?”, aku semakin penasaran
“Waktu
itu aku dikejar Ayah karena gak mau beresin villa, waktu itu ada yang mau nyewa
itu villa, dia udah mau nyampe tan, katanya di telepon”
Telepon?
Nyampe? Bukankah papa menelpon si pemilik villa sebelum 2 tikungan itu?
“Aku
gak mau tan, soalnya aku capek, daritadi disuruh suruh terus. Nah, Ayah marah
dan ngejar aku sampai kebun, aku blusukan ke kebun karena takut dipukul Ayah,
aku gak sadar kalau kebun udah abis, dan aku udah di jalan tikungan waktu itu,
terus ada mobil lewat waktu itu, karena aku panic, aku lanjutin aja lariku
sampai ke kebun berikutnya, bareng Rabbit ku…”
Rabbit
? Boneka kelinci kah?
“Hmm..rabbit
itu siapa?”
“Rabbit itu boneka kelinciku tan”
“Rabbit itu boneka kelinciku tan”
Astagfirullah
“Terus
aku kesandung ranting pohon, jadinya berdarah gini deh, sampe ke rumah, aku
ngobatin ini sendirian, karena ibu gak mau, dan ayah belum pulang.”
“Oh…jadi..?”
Aku
tak kuasa menahan tangisku. Dan emosiku tak terkendali.
“Jadi
apa tan?”
“Jadi
kamu yang bikin aku kayak gini? Kamu yang bikin papa mama ku meninggal? Kamu
yang bikin aku menderita kayak gini? Jadi kamu hah?”
Aku
mengamuk sambil menangis. Untung saja, waktu itu para karyawan sedang berada di
halaman belakang, hingga tak ada orang yang tahu semua ini.
“Maksud
tante apa?”, tanyanya ketakutan
“Kamu
tau? 9 tahun lalu. Aku mau liburan di Bogor, di villa. Namun, di tikungan
pertama yang harus aku lewati, seorang anak kecil berlari bersama boneka
kelincinya. Membuat papa membanting stir nya dan menabrak sebuah pohon besar.
Kamu ngerti hah?”
“Maafin
aku tante, aku gak tahu kalau tante yang punya mobil itu. Maafin aku tante”,
dia mulai menangis
“Arrghhh….!”
Aku
meninggalkannya dan segera pergi ke dalam, menenangkan. Aku tahu dia pasti
terpukul. Aku tahu dia baru menangis sekarang. Dan aku tahu, dialah penyebab
semua ini.
***
Sudah
sekitar 3 bulan aku tidak datang ke tempat kerjaku. Alasanku sakit. Walau
sebenarnya, aku sedang tidak mau bertemu dengan Sheline. Hingga hari ini, ia
datang ke rumahku.
“Mau
apa kamu kesini?”
“Aku
mau minta maaf Tan, aku bener-bener gak tahu waktu itu Tan. Maafin aku yah Tan,
aku gak tahu apakah Tante mau maafin aku atau enggak, tapi yang penting aku
udah minta maaf ke Tante. Oh iya tan, aku kesini mau pamit, aku mau pulang ke
Bogor. Aku gak tahu apa aku bakal balik lagi kesini atau enggak. Tante jaga
diri baik-baik yah. Tante kerja lagi yah, banyak anak-anak yang nanyain tante
dan kangen sama tante. Sheline tahu Sheline salah, tapi ini semua udah ada yang
ngatur tan, jadi sheline mohon agar tante maafin sheline dan menerima
kenyataan. Terima kasih atas semua kebaikan tante. Tante sangat berkesan bagi
Sheline. Sheline pamit Tan”, jelasnya panjang lebar
“Jaga
diri baik-baik Sheline. Tante tahu sekarang, tante memang harus nerima
takdir. Dan Tante udah maafin kamu kok,
tadi”, kataku, terharu.
“Terima
kasih tan, Sheline tahu, tante memang baik dan mau memaafkan kesalahan orang
lain”
Kami
berpelukan, untuk terakhir kalinya, untuk perpisahan ini.
Sungguh,
akhir yang bahagia.
***
Aku
masih disini. Kopiku sudah hampir habis, dan hujan sudah reda. Meninggalkan
jejak kenangan di pikiranku. Timeline twitter masih sepi. Dan aku mulai membuat
tweet, “Semua akan baik-baik saja:’)”.