Minggu, 02 Maret 2014

Memaafkan :(



Hai gais, ini nih cerpen yang mau aku share ke kalian. Sorry telat yaa, soalnya busy busy bingit -_- hufftt...Oke deng, daripada nunggu lama, mending langsung aja yuk. Cap to the Cus, Capcus ;;)
                                                                             ***
Hari ini hari Minggu. Aku tahu, ini hari yang tepat untuk berlibur. Karena hari ini hari pertama liburan akhir tahun. Melihat anak – anak sekitar kompleks yang sibuk membicarakan liburannya, atau melihat rumah – rumah yang kosong karena ditinggal penghuninya mudik, tak membuatku ingin ikut berlibur juga. Memang, rutinitasku padat akhir – akhir ini. Namun, entah kenapa aku tak mau pergi kemanapun. Aku hanya ingin bersantai di rumah sambil mendengarkan radio yang sedari tadi kuputar, ditemani timeline twitter, dan secangkir kopi, tak lupa, hujan. Membuatku mengingatkan suatu peristiwa yang memulai semua ceritaku kini. \(´ー`)
                                                                                ***
Liburan akhir tahun tiba. Membuatku dan teman – temanku  gembira. Mengingat ujian – ujian yang baru minggu lalu kami lewati. Nilai di raport ku memang tidak terlalu bagus, tapi minimal, aku bisa mempertahankan peringkatku. Begitu kata mamaku. Dan liburan membuat kami tenang, dan senang tentunya. Waktu yang sangat tepat untuk merefresh pikiran kami. Dan melupakan tugas untuk sejenak.
Liburan kali ini, papa mengajak kami ke sebuah tempat  yang sangat indah, katanya. Puncak namanya. Aku sangat tidak sabar untuk pergi kesana. Namun, berbeda dengan kakakku, Damar. Dia sangat cuek dan tidak memperdulikan kami yang sedari tadi sibuk packing, karena kami akan menginap. Dia sangat tidak menikmati liburan kali ini, entah kenapa. Saat packing pun, dia tidak banyak bicara dan tidak membawa banyak baju seperti aku, yang segalanya harus dibawa, karena aku tidak mau ada yang terlewat. Tapi dia ? Dia hanya membawa satu pasang baju, charger, dan headphone. Aneh, ,menurutku.
“Kok cuman segitu sih barang bawaannya, kak?”, tanyaku penasaran.
“Emang masalah buat lo ? Cuman ini yang gue butuhin kok. Kalau ada yang kelewat, tinggal beli aja kan, gampang. Lagian, gue juga gak niat kok liburan. Malesin deh. Kalu bukan karena takut disini sendirian, gue gak bakalan ikut deh”, jawabnya.
“Dih..kakak. Aneh”, balasku.
Setelah semua siap, kami pun  berangkat.
“Pah, kita jadi ke Puncak nih?”, Tanya Kak Damar di tengah perjalanan
“Iya, memangnya kenapa?”, Tanya papah
“Ng…emang bakal seru yah? Ini kan musim hujan pah”
“Bogor kan kota hujan? Mau musim hujan, mau musim kemarau. Disana hujan terus kok”
“Hhhh….ya udah deh, aku ikut aja”
Aku aneh sama Kak Damar. Daritadi, dia selalu risih dengan perjalanan kami. Mungkin ada yang tidak beres dengan hatinya. Ya Allah, lindungilah kami selama perjalanan, pintaku.
Malam mulai tiba, dan kami sudah hampir sampai di villa pesanan kami. Tinggal 2 tikungan lagi. Hingga tiba – tiba, di tikungan pertama, seorang anak kecil melintas sambil berlari dan membuat papah kaget. Ia membanting stir dan akhirnya mobil kami menabrak sebuah pohon besar. Dan semua mulai gelap dihadapanku.
                                                                                                ***
Setitik cahaya terlihat olehku. Aku tak tahu aku dimana, namun disana kulihat seorang dokter, dan Kak Damar.
“Raline, kamu sadar?”, Tanya Kak Damar tiba – tiba.
“Hmm..”, pandanganku masih belum jelas.
“Kak…”
“Iya, apa Raline?”, Tanya Kak Damar histeris
“Aku dimana ya?”
“Kamu di rumah sakit”
Aku ? Di rumah sakit ? Kenapa? Pikiranku mulai mengingat – ngingat. Kejadian apa yang telah membuatku hingga terbaring disini. Aku ingat sekarang. Seorang anak kecil. Berlari. Dan sebuah pohon besar. Mama? Papa? Dimana mereka? Harusnya mereka ada disini sekarang?
“Oh…Mama, Papa mana kak?”
“Mereka..”
                                                                                ***
Aku baru saja pulang dari pemakaman dekat rumahku. Menengok kedua orangtuaku disana. Memang, setelah kecelakaan itu, mama dan papa meninggal. Pertama kali aku mendengarnya, aku memang sangat terpukul, namun beberapa hari kemudian, aku mencoba menerima takdir yang Allah berikan. Memang sudah seharusnya, Raline, kata Kak Damar waktu itu. Kaki kananku patah, dan diambutasi. Sejak itu, aku koma 2 minggu, dan Kak Damar lah yang mengurus semuanya. Kini, kami hanya berdua. Dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya dengan kondisiku yang seperti ini. Aku tak tahu apakah aku masih bisa sekolah ? Siapa yang akan mengantar jemputku dengan keadaan yang seperti ini? Sedangkan liburan, juga sudah berakhir. Dan kini, aku absen selama hampir 2 minggu. Teman – temanku dan teman – teman Kak Damar juga sudah sering datang kesini., Sekedar untuk menengok  dan berbela sungkawa. Aku jadi kasihan pada Kak Damar, ia jadi berhenti bekerja karena aku harus masih mendapatkan perawatan di rumah. Dan kini, tabungan kami juga semakin menipis. Nenekku yang berada di Yogya mengajak kami untuk tinggal bersamanya. Dan saat aku bertanya pada Kak Damar, ia bilang, ia menyetujuinya. Ia memutuskan agar aku pindah sekolah disana, karena jika disana, kami tidak akan terlalu repot karena ada Bi Inah, pembantu Nenek, yang akan merawatku. Dan rumah ini ? Nenek bilang, lebih baik kami menjualnya, baiklah, kami menuruti saran Nenek, karena kami yakin, orangtua lebih tahu apa yang harus kami lakukan saat ini.
Setelah mengurus semuanya, kami pun siap pindah ke Yogya. Meninggalkan kota kembang yang menjadi saksi cerita kami selama ini. Dan aku akan kembali lagi, entah kapan.
                                                                                ***
Kereta agrobisnis yang kami tumpangi mengajak kami menikmati pemandangan karya Tuhan Yang Maha Kuasa yang sangat hebat. Butuh waktu 12 jam untuk sampai ke kota gudeg itu. Aku bertanya-tanya, bagaimana nanti aku disana. Akankahkutemuiteman – teman seperti di Bandung? Hhh…mungkin.
                                                                                ***
8 tahun kemudian …….
Aku sudah lulus SMA, dengan predikat siswa terbaik. Walaupun dengan kondisi fisik yang kurang, namun tidak mengalahkan semangat juangku selama ini. Dan kini,aku sudah bekerja di sebuah yayasan social  di Yogyakarta, sebagai relawan bagi anak – anak terlantar dan anak kurang lainnya sepertiku. Nenek sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Dan kini, hanya ada kami dan Mbak Rani serta keluarganya, bibi kami. Kak Damar sekarang sudah menikah. Ia tidak tinggal disini, tapi di kompleks lain.
Pagi ini, aku sedang berada di Malioboro, menuju tempatku bekerja, diantar Mas Jono, supir pribadi keluarga Nenek. Hari ini tampak berbeda dengan hari lainnya. Di tempat kerjaku, aku melihat sesosok anak asing.
“Din, itu anak baru?”, tanyaku pada Dinda rekan kerjaku.
“Iya, namanya Sheline, hampir sama denganmu ya? Umurnya baru 14 tahun. Ia pergi merantau. Walaupun aku juga gak percaya sih, masa ada anak SMP nyari uang, jauh lagi.”
“Emang dia darimana?”
“Katanya dari Bogor”
“Hah? Terus dia kesini mau apa?”
“Ya…mungkin dia belum tahu kota Yogya itu seperti apa. Kebetulan tadi malem si Iyem nemuin dia di trotorar, jadi dia bawa kesini deh”
“Oh..gitu. Oke deh, aku samperin yah”
“Okeesiip”
Aku langsung menghampirinya. Dia terlihat sangat berbeda dengan yang lainnya. Rambut panjang yang tergerai, lesung pipit yang manis, kulit kuning langsat, dan bola mata yang hitam. Terlalu cantik untuk seorang perantau. Kuhampiri dia, dan aku mulai bertanya-tanya padanya.
“Hai…kamu anak baru disini? Kenalin, nama kakak Raline, kamu boleh panggikl kakak apa saja, asal jangan monyet yah. Hehe..”, kataku memperkenalkan diri dengan ramah sambil mengayuh kursi roda ku. Semua relawan disini memang harus ramah, namanya juga yayasan social, harus berhati baik tentunya.
“Hahaha…”, ia malah tertawa.
“Lho..kok ketawa? Ada yang lucu yah?”, kataku cemberut
“Iya, kakak ini lucu, imut deh”,
“Memang begitu kenyataannya, kamu juga kok. O yah, nama kamu siapa?”
“Namaku Sheline, Tante”
“Oh…sheline yah. Kamu darimana sayang?”
“Aku daru Bogor Tante”
“Kamu mau apa kesini? Kok jauh – jauh kesini?”
“Mau nyari duit, tante”
“Emang Ayah Ibu kamu kemana?”
“Mereka ada disana, cuman mereka jahat sama Sheline, mereka sering marahin Sheline, mereka juga sering pukul Sheline, nih bekasnya. Jadi Sheline kabur aja.”
“Aduh.. kasian kamu yah. Terus gimana kalau orangtua kamu nyariin?”
“Hmm..gak tau tuh. Mungkin nanti aku pulang kampung deh tan”
“Oke deh kalau itu mau kamu”
Begitulah awal pertemuanku dengannya. Ia sangat ramah, mudah bergaul, dan sangat polos.
                                                ***
Aku dan Sheline sudah sangat dekat. Ia seperti adik ku sendiri. Dari sekian anak yang ada, hanya ia yang paling kenal denganku, bahkan kebiasaanku, rumahku, sampai Mas Jono, Bi Inah, Mbak Rani, dan yang lainnya. Ia sering bermain ke rumahku bersama anak lainnya, namun hanya ia yang paling menonjol diantara mereka. Ia juga sering membantu ku atau keluargaku yang lainnya kalau Lebaran Idul Fitri. Entah kenapa ia bisa membuatku melupakan sejenak keresahan dan kegundahan hatiku.
Hari sudah sore, sudah pukul 3. Namun, aku belum mau beranjak dari kursi ini didepan teras yayasan . Aku masih ingin membayangkan potongan – potongan kejadian sejak aku kecil. Hingga potongan pahit itu datang. Peristiwa 9 tahun yang lalu. Yang membuat aku seperti ini. Kalau boleh jujur, aku belum bisa memaafkan anak kecil itu. Anak kecil dengan rambut sepunggung dan boneka kelincinya itu. Di tikungan pertama sebelum villa kami. Hhh…bagaimana bisa yaAllah? Aku ingin menemui anak itu sekarang juga. Inikah jawaban dari keresahan Kak Damar waktu itu? HHH….
“tante sudah makan?”
Suara itu mengagetkanku. Sheline.
“Sudah”, aku segera menghapus airmata yang menggenang di pelupuk mataku.
“Tante kenapa? Kok sedih? Cerita dong sama Sheline”
“Hmm..tante nggak sedih kok. Tante cuman kelilipan. Daripada tante yang cerita, mending Sheline aja yang cerita, cerita tante itu garing, beda sama cerita Sheline yang lucu-lucu itu. Sekarang, tante pengen Sheline certain suasana rumah Sheline dulu, yang detail ya, sama keluarga kamu nya”, pintaku tiba-tiba. Aku tahu, ia tak pernah ragu menceritakan keluarganya, walaupun itu menyedihkan, menurutku. Tapi ia selalu bersemangat menceritakannya.
“Oke deh, Sheline aja yang cerita. Jadi, rumah Sheline yang dulu itu gede, cuman gak terlalu gede sih, cuman seluas yayasan ini. Tapi, disana ada kolam ikan, ada perosotan juga, ada ayunan, rumah Sheline terbuat dari kayu yang bagus, warnanya coklat. Dan pemandangannya indah banget, cuman jalannya meliuk-liuk, banyak tikungan. Kalau tante mau ke rumah Raline, tante harus melewati 2 tikungan terakhir. “
Dua tikungan? Terakhir? Aku semakin penasaran.
“Terus?”
“Nah, ayah Sheline, kerjanya buka warung. Tapi nyewain villa juga. Villa nya gede banget, kayak hotel. Villa itu ada disamping rumah Sheline. Kalau bandingin villa itu sama rumah Sheline sama villa nya, bedanya jauh banget, kayak gubug dan istana. Di halamannya, ada bunga bougenville, indaahh banget”
“Banyak wisatawan yang mau nyewa rumah itu. Tapi, gak tau kenapa, seorang penyewa gak jadi nyewa villa waktu itu. Padahal ia udah boking lo tan. Kalau ayah Sheline itu garang banget Tan, dia sering marahin Sheline tanpa sebab, dia juga sering mukul Sheline, kumisnya tebel, matanya menakutkan, pokoknya muka garang aja deh. Ibu juga sama, sukanya marahin Sheline terus, Cerewet.”
“Eh,…mereka kan tetep orangtua kamu”
“Iya sih tan, tapi Sheline juga kan anaknya, butuh kasih sayang, bukan cacian”
“Iyaa..tante tahu. Segarang-garangnya mereka, pasti mereka punya tujuan yang baik buat kamu”, nasihatku.
“Iya tan”
“Itu bekas luka apa?”, tanyaku sambil menunjuk betisnya, karena ia hanya menggunakan celana selutut waktu itu.
“Oh..ini bekas luka kena ranting”
“Lho kok bisa?”
“Sebenernya luka ini udah lama tan, udah 9 tahun yang lalu, tapi tetep ada”
“9 tahun yang lalu? Kenapa?”, aku semakin penasaran
“Waktu itu aku dikejar Ayah karena gak mau beresin villa, waktu itu ada yang mau nyewa itu villa, dia udah mau nyampe tan, katanya di telepon”
Telepon? Nyampe? Bukankah papa menelpon si pemilik villa sebelum 2 tikungan itu?
“Aku gak mau tan, soalnya aku capek, daritadi disuruh suruh terus. Nah, Ayah marah dan ngejar aku sampai kebun, aku blusukan ke kebun karena takut dipukul Ayah, aku gak sadar kalau kebun udah abis, dan aku udah di jalan tikungan waktu itu, terus ada mobil lewat waktu itu, karena aku panic, aku lanjutin aja lariku sampai ke kebun berikutnya, bareng Rabbit ku…”

Rabbit ? Boneka kelinci kah?
“Hmm..rabbit itu siapa?”
“Rabbit itu boneka kelinciku tan”
Astagfirullah
“Terus aku kesandung ranting pohon, jadinya berdarah gini deh, sampe ke rumah, aku ngobatin ini sendirian, karena ibu gak mau, dan ayah belum pulang.”
“Oh…jadi..?”
Aku tak kuasa menahan tangisku. Dan emosiku tak terkendali.
“Jadi apa tan?”
“Jadi kamu yang bikin aku kayak gini? Kamu yang bikin papa mama ku meninggal? Kamu yang bikin aku menderita kayak gini? Jadi kamu hah?”

Aku mengamuk sambil menangis. Untung saja, waktu itu para karyawan sedang berada di halaman belakang, hingga tak ada orang yang tahu semua ini.
“Maksud tante apa?”, tanyanya ketakutan
“Kamu tau? 9 tahun lalu. Aku mau liburan di Bogor, di villa. Namun, di tikungan pertama yang harus aku lewati, seorang anak kecil berlari bersama boneka kelincinya. Membuat papa membanting stir nya dan menabrak sebuah pohon besar. Kamu ngerti hah?”
“Maafin aku tante, aku gak tahu kalau tante yang punya mobil itu. Maafin aku tante”, dia mulai menangis
“Arrghhh….!”
Aku meninggalkannya dan segera pergi ke dalam, menenangkan. Aku tahu dia pasti terpukul. Aku tahu dia baru menangis sekarang. Dan aku tahu, dialah penyebab semua ini.
                                                                ***
Sudah sekitar 3 bulan aku tidak datang ke tempat kerjaku. Alasanku sakit. Walau sebenarnya, aku sedang tidak mau bertemu dengan Sheline. Hingga hari ini, ia datang ke rumahku.
“Mau apa kamu kesini?”
“Aku mau minta maaf Tan, aku bener-bener gak tahu waktu itu Tan. Maafin aku yah Tan, aku gak tahu apakah Tante mau maafin aku atau enggak, tapi yang penting aku udah minta maaf ke Tante. Oh iya tan, aku kesini mau pamit, aku mau pulang ke Bogor. Aku gak tahu apa aku bakal balik lagi kesini atau enggak. Tante jaga diri baik-baik yah. Tante kerja lagi yah, banyak anak-anak yang nanyain tante dan kangen sama tante. Sheline tahu Sheline salah, tapi ini semua udah ada yang ngatur tan, jadi sheline mohon agar tante maafin sheline dan menerima kenyataan. Terima kasih atas semua kebaikan tante. Tante sangat berkesan bagi Sheline. Sheline pamit Tan”, jelasnya panjang lebar
“Jaga diri baik-baik Sheline. Tante tahu sekarang, tante memang harus nerima takdir.  Dan Tante udah maafin kamu kok, tadi”, kataku, terharu.
“Terima kasih tan, Sheline tahu, tante memang baik dan mau memaafkan kesalahan orang lain”
Kami berpelukan, untuk terakhir kalinya, untuk perpisahan ini.
Sungguh, akhir yang bahagia.
                                                                ***
Aku masih disini. Kopiku sudah hampir habis, dan hujan sudah reda. Meninggalkan jejak kenangan di pikiranku. Timeline twitter masih sepi. Dan aku mulai membuat tweet, “Semua akan baik-baik saja:’)”.

Rey :') - Si tokoh utama

Hai, apa kabar (?)
Kemarin aku ketemu lagi
Sama siapa ?
Sama Rey laah

Hai Rey, apa kabar (?)
Lama kita tak berjumpa
Dalam sebuah cerita
Dalam sebuah novel
Dalam sebuah alur yang terus mengalir hingga akhir

Hai Rey!
Kita bertemu lagi,
Namun dalam cerita yang berbeda
Kamu tetap kamu
Tak pernah berubah
Tetap Rey yang dulu
Tetap Rey yang menjadi tokoh utama

Hai Rey!
Ceritamu hampir selesai
Dan kita akan berpisah lagi
Entah kapan kita bertemu lagi
Di cerita yang berbeda, dan peran yang juga berbeda

Hai Rey, apa kabar (?)
Sampai jumpa :')

(Puisi ini hanya untuk sekedar have fun dan hanya untuk sekedar mengekspresikan imajinasi, hanya untuk berlatih menguji kemampuanku )