Fajar pagi bersinar.Aku bersiap
dengan seragamku.Dengan topi di kepala dan dasi di leherku.Aku hendak berangkat
ke sekolah.Sekolah yang tak banyak memberikanku kebahagiaan.Yang aku dapatkan
hanyalah penderitaan.Aku tinggal disebuah desa.Sekolahku berada sekitar sepuluh
kilometer dari rumah.Namun,sekolah itu sudah termasuk kedalam kota kecil.Berbeda dengan rumahku,yang masih
dianggap kampung terpencil.
Aku mengayuh sepeda.Setiap hari ku
lewati jalan berliku bersama sepeda yang setia menemaniku,walau kini sudah
tidak layak dibilang sepeda.Jalan ini sudah tidak aneh bagiku.Jalan yang kadang
membuatku sakit badan atau pegal-pegal.Terlintas dipikiranku sebuah pertanyaan
seperti,”Mengapa pemeritah tidak memperbaiki jalan ini? Bukannya mereka kaya? Bukankah mereka
bergelimangan harta? Atau mereka tidak tahu akan hal ini?”. Tapi,aku tidak
memikirkannya terlalu jauh.Karena aku hanyalah seorang anak SMP Kelas VII.,yang
baru saja menjalani sekolah selama tiga bulan.Namaku Obi.Lengkapnya Muhamad
Haerobi.Nama yang singakat,pikirku.
Banyak orang yang bertanya,”Mengapa aku bersekolah jauh-jauh di kota
kecil?” Beasiswa telah membawaku ke sekolah buruk itu! Tapi,aku cukup bangga
dengan prestasiku.Bukan bangga karena masuk ke sekolah favorit.
Aku sampai di sekolah. Ku parkir sepedaku bersama sepeda-sepeda yang
lainnya.Capek juga mengayuh sepeda sejauh sepuluh kilometer,keluhku dalam hati.Tapi,tak
apalah! Ini demi mendapatkan sebuah ilmu.Tentunya juga untuk membuat orang lain
bangga.Terutama kakekku.Ya,kakek! Selama ini aku tinggal bersama Kakek.Hanya
Kakek yang setia menemaniku,memberikanku saran,serta mengerti perasaanku.Kedua
orangtua ku sudah tidak ada semenjak sepuluh tahun yang lalu.Itu juga aku
ketahui dari kakek.Karena ketika mereka meninggal,aku baru saja menginjak umur
dua tahun.Oh,sudahlah! Itu tidak pentinh.Yang penting,sekarang aku hendak
memasuki ruangan kelas.
Baru saja aku melangkah didepan kelas untuk menuju banguku,tatapan sinis
mengikuti langkahku.Entah siapa dan entah kenapa.Aku tak mengerti orang itu
selalu saja menatapku sinis ketika aku berpapasan muka dengannya.Sedangkan aku
tak pernah bertanya sekalipun kepada dia.Apalagi untuk mengganggu hidupnya.Lalu
apa salahku? Hal inilah yang selalu menganjal dibenakku.Yang membuat aku tidak
betah bersekolah disini.Yang selalu memberikanku penderitaan.Bukan hanya
tatapan sinis,orang itu juga sering mengejekku,mentertawakanku dan hal lainnya
bersama temannya.Aku bingung memikirkan hal itu.Ya sudahlah!
Aku menyimpan tas di kursiku.Dia tetap menatapku.Lalu aku memeranikan diri
untk bertanya karena merasa tak enak diperhatikan seperti itu.
”Ada masalah?”tanyaku pelan dengan diiringi ttapan sinis seperti
dirinya.Sebelumnya,aku tak pernah bertanya seperti itu.Karena aku merasa biasa
saja.
”Tidak!”jawabnya pendek sambil memalingkan muka.Sekarang,dia berhenti
menatapku.
****
”Anak-anak,apa kalian mempuyai cita-cita?”tanya Bu Guru yang sedang
membahas tentang cita-cita.
“Punya!!!”jawab anak-anak serempak.
”Kalau begitu,Ibu mau tahu apa saja cita-cita kalian beserta alasannya? Di
mulai dari sana,ya!”perintah Bu Guru.Kemudian semua anak menyebutkan
citaa-citanya.Semua beragam.Ada yang ingin menjadi
perawat,insinyur,direktur,dan lain-lain.Yang pasti,semua mengagumkan.
Kini tiba giliranku menyebutkan cita-citaku.Dengan semangat aku menjawab.
”Aku ingin jadi presiden,Bu! Setidaknya,aku ingin menjadi wakil
rakyat!”ucapku.Seketika murid yang ainnya mentertawakanku.Tertawa.Keras.Bahkan
orang yang tadi pagi memberikan tatapan sinis.Sepertinya,dia baru saja meihat
sebuah komedi.Aku bertanya dalam hati,Apakah
itu salah? Keheranan.Aku memandang mereka keliru.Tapi,Bu Guru
memberhentikan tawa mereka.
”Sudah,diam! Obi,mengapa kamu ingin menjadi presiden?”tanya Bu Guru lembut
kepadaku.
”Aku ingin menjadi presiden yang bijaksana,Bu.Apalagi,jika kelak nanti
cita-citaku terlaksana,aku ingin memperbaiki jalan menuju rumahku.Yang hancur
rusaknya.”ucapku tenang.Yang lain kembali tertawa.Lebih dari yang tadi.Bahkan
ada beberapa yang berkata,”Kau tak akan
pernah menjadi presiden!” Ah,tapi sudahlah! Bu Guru kembali bertanya kepada
murid yang lainnya.
Hari-hari di sekolah berhasil dilewati.Meski dengan tertawaan orang lain.
***
Ku simpan sepedaku.Lelah.Hanya itu yang terasa setelah mengayuh sepeda
sejauh sepuluh kilometer lagi.Aku langsung bergegas mandi.Tak kuat dengan hawa
panas.Setelah selesai mandi,ku ambil buku dan peralatan tulis lainnya.Ku
dudukkan badan di teras rumah.Ku kerjakan PR dengan sigap.Meski terkadang
susah.Kegiatan rutin ini biasa aku lakukan sambil menunggu Kakek pulang dari
sawah.Kakek? Kemana Ibuku atau Ayahku?? Hah... Ibu dan Ayahku sudah meninggal
ketika aku berusia 2 tahun.Kecelakaan kereta itu selalu membuatku
merinding.Tapi,harus bagaimana lagi? Hal itu tak mungkin bisa aku lupakan
begitu saja,meski aku berusaha melupakannya.Ya,kejadian itu terjadi beberapa
tahun silam.Waktu itu,aku bersama kedua orang tuaku ingin berkunjung ke rumah
Kakek.Tapi naas.Semuanya menjadi air mata.Kereta yang kami tumpangi mengalami
kecelakaan.Entah apa penyebabnya,aku kurang tahu.Aku selamat dari tragedi
itu.Namun orang tuaku tidak.Mereka meninggalkan ku untuk selamanya dan tak akn
pernah kembali.Jadilah sekarang aku diasuh oleh Kakek.
Kakek datang membawa cangkulnya.Seperti biasa,Kakek selalu saja terlihat
kelelahan.Aku khawatir terhadap Kakek.
”Kakek capek? Biar Obi ambilkan minum,ya?”tanyaku pada Kakek.
”Tak usah! Habis ini,Kakek mau menggarap sawah milik Pak Kardi.”tolak
Kakek.
Aku tak bisa berbuat apa-apa.Mungkin itu memang kemauan Kakek.Ya
sudahlah....
***
Gelap.Lampu mati pada malam hari.Hanya ada sebuah damar yang tidak terlalu
terang di rumah ini.Aku takut.Biasanya,pada situasi seperti ini aku selalu
bercengkrama dengan Kakek.Berbagi cerita suka dan duka,pengalamanku di
sekolah,pengalaman Kakek ketika mencangkul sawah,dan yang lainnya.Semuannya
seru!!
”Kek,apa Obi tak layak menjadi wakil rakyat?”tanyaku tiba-tiba.Aku sangat
penasaran dengan hal itu.Kakek tersenyum.
”Kata siapa?”
”Orang bilang....”kata-kataku terputus.Aku tak kuat melanjutkan kata-kata
itu.
”Tak usah dengarkan kata-kata orang lain.Obi pasti bisa,kok.Suatu saat
nanti,Obi bisa memperbaiki jalan menuju sekolah.”jelas Kakek menghiburku.Aku
mengangguk dan tersenyum.
”Sepertinya ada benarnya juga.”batinku.
***
4 bulan berlalu.Aku menjalani hari-hari di sekolah.Selama 4 bulan juga aku
tak pernah mempunyai teman.Walaupun teman sebangku.Entahlah! Aku tak mengerti
pada teman-teman sekelasku.Apa salahku hingga mereka menjauhiku semenjak aku
datang ke sekolah ini? Oh...Tuhan... Aku bosan!! Aku lelah harus menerima semua
tatapan sinis itu.Aku capek untuk terus bertanya-tanya.Apa ini yang disebut
takdir? Mengapa takdir ini begitu menyakitkan? Aku tidak mempunyai orang tua
semenjak umur 2 tahun,aku dibenci teman-temanku semenjak aku bersekoalah disini,apa
itu yang disebut takdir?!
Itulah kutukan-kutukanku kepada Tuhan.Sebenarnya,aku tak ingin berbuat
seperti itu.Namun itu sangat melelahkan! Aku harus menanggung beban derita.Aku
berhenti menyalahkan Tuhan.Mungkin memang ini takdir.Terima saja.
Ujian Akhir Semester sudah selesai.Kini,tinggal pebagian raport.Kakek
datang ke sekolah.Seusai menerima raport,Kakek menghampiriku dengan senyum
mengembang.Sungguh terlihat sangat bahagia Kakek saat ini.Aku berharap senyum
itu selalu ada pada Kakek.Kakek memperlihatkan raport itu.Kubuka dan hasilnya
tidak terlalu mengecewakan.Aku mendapat peringkat 1.Mungkin ini yang disebut
takdir membahagiakan? Aku percaya! Kini,aku tak akan menyalahkan Tuhan lagi.
Liburan sekolah sudah usai.Aku kembali menjalani rutinitas Sekolah.Kini,aku
merasa sangat bahagia.Bagaimana tidak? Aku berhasil membuktikan pada mereka
yang memandangku sinis bahwa aku bisa menjadi juara.
Tak ada yang berubah setelah liburan selesai.Mereka tetap memandangku
sinis.Bahkan kini lebih sinis.Dengan cacian merekaa,aku tak kuat mendengarnya.
”Hei! Kau tak usah bangga dengan peringkat mu itu.Aku tetap yang berkuasa
disini!”
”Dasar anak kampung! Udah jadi peringkat 1 aja udah berani senyum sendiri!”
Itulah kata-kata yang sering mereka ucapkan.Aku tak mengerti.Sungguh
tidak.Apakah tersenyum saja dilarang? Apakah tersenyum itu harus mengeluarkan
uang sehingga jika kita tersenyum seolah-olah kita paling kaya? Menurtku tidak!
Agama juga menerangkan bahwa senyum itu ibadah.Biarkan sajalah! Mungkin mereka
belum mengerti.Hingga nanti suatu saat semua akan jelas dimata mereka.
***
Sudah tiga tahun aku bersekolah disini.Artinya,aku sudah menjadi siswa
kelas sembilan.Peringkat ku tidak berubah.Begitu juga tatapan itu.Tak ada yang
berubah dari mereka.
Tiba saatnya saat keadaan menjadi air mata lagi.Kakek meninggalkanku
selamanya.Aku sedih.Mungkin lebih dari sedih.Coba kau bayangkan! Aku kehilangan
Kakek yang selama ini menemaniku.Aku sudah tak tahu harus kepada siapa lagi aku
bergantung.Sedangkan aku masih sebagai siswa kelas sembilan yang sebentar lagi
akan ujian.
Seorang pengusaha datang menemuiku ketika aku sedang menangisi kepergian
Kakek.
”Namamu Obi?”tanyanya.Aku terkejut.Tapi aku mengangguk.
”Lebih baik kau ikut saya ke kota.”pintanya tiba-tiba.
”Anda siapa?”
”Kau tak tahu? Ini Om mu! Om Erwin dari Bandung.”
Benarkah? Benarkah dia Om ku? Aku merasa tak mempunyai saudara sekaya
pengusaha itu.Aku tersentak.Ternganga.Mengernyitkan dahi.Pertanda tak mengerti.
”Aku kakak dari almarhum ayahmu.Waktu almarhum ayahmu meninggal,tadinya aku
ingin membawamu ke Bandung.Tapi,Kakek melarangnya.Dan meminta agar kau diasuh
olehnya.Hingga saat kau berumur 2 tahun itu aku tak pernah datang kesini lagi
menemui Kakek.”jelas pengusaha itu.Ternyata dia benar.Dia Om Erwin.Kakak dari
almarhum ayahku.Aku percaya itu.Aku mengangguk setuju untuk pergi ke Bandung.
***
Aku berpindah sekolah semenjak itu.Ujianku belum beres.Segera saja akau
bersekolah di Bandung agar aku dapat mengikuti ujian.Rasanya bersekolah di kota
cukup aneh.Murid-muridnya mengikuti trend terbaru.Meskipun sudah bersekolah di
Bandung,tetap saja aku mendapatkan tatapan sinis.Mungkin mereka menganggapku
anak kampung.Biarkan saja lah! Aku sudah tidak peduli.
Beberapa ujian sudah akau tempuh.Dari mulai beberapa Try Out,ujian praktek,ujian sekolah dan ujian
nasional.Mudah-mudahan hasilnya memuaskan.Aku bersekolah disini hanya untuk
menamatkan sekolah menengan pertama saja.Dan mungkin setelah lulus dari sekolah
ini aku akan melanjutkan pendidikan di SMA sekitar Bandung.
***
Hari ini adalah hari yang sangat menegangkan bagiku.Hari yang akan
menentukan nasibku selanjutnya.Ya,saat ini hari dimana aku akan menerima hasil
keluusan.Setiap siswa memasuki ruangan kelasnya masing-masing.Kemudian kami
semua diberi sebuah amplop.Ketika aku membukanya,tertera sebuah tulisan
”LULUS”.Betapa bahagianya aku ketika aku melihat tulisan itu.Terimakasih
Tuhan...
Aku pulang dengan membawa sebuah kabar gembira.Ku hampiri Om Erwin yang
sedang duduk di teras rumah.
”Assalamu’alaikum,Om...”aku memberikan salam dengan sebuah senyum.
”Wa’alaikumsalam.Kok,udah pulang?”tanya Om Erwin heran.
”Iya,Om.Kan,hari ini cuman dibagi hasil kelulusan saja.”
”O,ya? Bagaimana hasilnya?”
”Aku lulus!!!!!”
Disana kami bahagia.Kemudian Om Erwin merencanakanku untuk masuk ke SMA
Favorit.
***
Aku berhasil diterima di SMA Favorit.Dan ulai sekarang,akan ku buktikan
kepada semua orang yang telah menatapku sinis.Bahwa aku bisa menjadi orang yang
berguna.Aku bisa menjadi seorang wakil rakyat!!
Tanpa terasa,aku sudah lulus dari SMA.Kini,aku berkuliah di salah satu
universitas di Bandung.Aku mengambil jurusan IPS.Nilai-nilaiku terkesan
bagus.Aku banyak aktif diberbagai organisasi.Dan mungkin sebentar lagi aku akan
mewujudkan cita-citaku.
***
Aku mengikuti pemilihan wakil rakyat.Sekarang,umurku sudah menginjak 30
tahun dan aku sudah mempunyai sebuah keluarga.Om Erwin sudah ku anggap sebagai
ayahku sendiri.Dia yang selalu menyemangatiku untuk terus berusaha.Kalian tahu
tidak? Dari pemilihan wakil rakyat itu aku berhasil lolos dan menempati sebuah
kursi DPR.Hari-hariku banyak ku lalui dengan rekan-rekan lainnya yang juga
menjabat sebagai wakil rakyat.Kami sering berdiskusi untuk merumuskan suatu
masalah.Akhirnya..cita-citaku tercapai.Memang didunia ini tidak ada yang tak mungkin!!
***
Tiga tahun aku menjabat sebagai wakil rakyat.Aku melihat sebuah berita
mengagetkan.Ada beberapa wakil rakyat yang terlibat korupsi.Sepertinya aku
kurang mengenalnya.Tapi,berdasarkan foto yang berada di televisi,aku pernah
melihatnya.Aku yakin itu pasti dia!!,gumamku dalam hati.Ya,dia adalah orang
yang selalu menatapku sinis ketika aku bersekolah di kampung.Tak kusangka
ternyata dia menjadi seorang koruptor.Aku benar-benar kecewa kepada dia...