Mentari pagi bersinar,
membangunkanku melalui jendela yang terbuka.
Hari ini hari Kamis, tanggal 27
Maret 2012. Dan ini merupakan hari spesial bagiku. Karena hari ini adalah hari
ulang tahunku yang ke-17. Aku berharap di hari ulang tahunku, aku akan mendapat
ucapan “selamat ulang tahun” dari seseorang, dan mendapatkan hadiah terindah. Namun,
hingga pagi ini, tidak ada satu pun pesan yang masuk ke handphone ku. Aku pun melupakan hal
itu dan segera bersiap – siap untuk pergi ke sekolah. Setelah siap, aku pun
pergi ke ruang makan, aku hanya sarapan sendiri, dengan nasi goreng lagi
tentunya. Ibu dan Ayah ku sedang tidak ada di rumah, mereka sedang melaksanakan
tugasnya di Paris, sebagai dosen. Aku berharap, mereka juga mengucapkan
“selamat ulang tahun” kepadaku walau hanya lewat pesan atau video call, tapi
mereka bahkan tidak ingat ini hari ulang tahun anaknya sendiri.
“Rara !”, panggil seseorang di
belakangku. Aku menoleh, “Eh..Via. Ada apa Vi? Kok tiba – tiba mangil aku?”.
“Aku cuman mau ngucapin happy birthday sama kamu. Semoga kamu makin cantik,
baik, rajin, pinter, sholehah, dan pastinya longlats sama Eza”, jawab Via,
sahabatku. “Hmm..kayaknya yang terakhir aku gak yakin deh. Soalnya..”, tiba –
tiba Via memotong kata – kataku. “Soalnya kenapa? Ayo, cerita ke aku, Ra! Mungkin
aku punya solusi buat masalahmu”. “Itulah gunanya sahabat, mau mendengarkan
masalah sahabat yang lainnya. Aku beruntung punya kamu, Vi. Jadi….”, aku pun
menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kalau akhir – akhir ini Eza seperti
menghindar dariku. Dia bahkan sudah 3 hari ini tidak mengabariku, bahkan di
hari ulang tahun pacarnya pun, dia tetap tidak mengabariku. Di sekolah, kami
juga tidak bertemu, karena kami memang tidak sekelas.Sudah aku cari dia ke setiap penjuru sekolah juga tidak ada. Ditambah dengan sikap kedua
orangtua ku yang hanya mementingkan diri mereka sendiri. Dan kini, hanya Via
lah yang aku punya. L
L
Setelah aku bercerita, Via
berkata padaku “ Sabar, Vi. Tuhan mungkin sedang mengujimu. Karena dia tau,
kamu orang yang tegar, dan dia menyayangimu. Sekarang, kamu enjoy aja yah! Kan
masih ada aku :’)”
“Iya, Vi. Makasih ya! {}”
*************************************Sepulang
sekolah, aku mencoba mengirim pesan pada Eza.
“Za, apa kabar? Kamu inget gak ini hari apa?”
“Za, bales dong! Punya pulsa gak? Kalau gak punya ngomong aja, nanti
aku isi”
“Halooo, ada orang?”
Berkali – kali aku mengirim
pesan, namun tak satu pun yang ia balas. Aku jadi semakin bingung daaaan galau L Aku coba telpon, namun
tidak ia angkat. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengirimnya pesan di Facebook
atau Twitter. Dan ternyata, dia juga sedang online di Facebook. Aku langsung
mengirimya pesan.
“Za, kamu baik – baik aja kan? Kenapa aku sms kamu gak ngebales? Aku
telpon, kamu gak ngangkat. Sebenernya
kamu kenapa sih akhir – akhir ini? L”
“Aku baik- baik aja Ra, kamu tenang aja. Nanti lagi ya ngobrol nya, aku
lagi sibuk nih”
“Emang kamu lagi apa sih?”
“Aku lagi googeling sambil chat sama Via”
“Via? Siapa dia? Via Aryanti sahabat aku?”
“Bukan ! Tapi Via sepupu aku, nanti kan aku mau liburan sama keluarga
mereka, nah kita lagi ngomongin tempat apa aja yang cocok buat liburan kita.
Gitu Ra, kamu tenang aja deh, udah yaa…aku off nih. Bye!”
Hanya itu yang ia katakan
padaku. Sangat singkat, padat, dan jelas. Tapi yang penting, aku hanya
berharap, Via yang ia katakan bukanlah Via sahabatku. Positif thinking aja, Ra, Eza pasti cowok baik – baik, Via juga sahabat
yang baik, jadi gak mungkin kan mereka ngekhinatin kamu, Ra! :’), pikirku.
Hari – hari terus berlalu, dan
Eza juga tidak lagi memberi kabar padaku.
Orang tua ku juga belum pulang. Mereka orang sibuk, mereka sibuk juga pasti
untuk kesejahteraan anaknya. Jadi, tunggu saja mereka pulang , Ra!, pikirku.
Dan, aku juga agak jauh dengan Via, karena dia sibuk dengan ekstrakurikulernya
mungkin. Di kelas ia juga tidak banyak bercerita denganku. Huft… :(
Suatu hari, teman – teman di
kelas ku sibuk menggosipkan Via dan Eza. Katanya, Via dan Eza sudah jadian,
sedangkan aku ? Diputuskan saja belum, status nya juga masih pacarnya, tapi HTS
! Sama aja ! L
Aku tidak menanggapi gossip itu, aku pikir, itu hanya kabar burung yang tidak
jelas asal – usulnya. Kalau aku tahu
siapa biang gossip nya, pasti akan aku masukan dia ke dalam sumur !
Arrrghh……..!, pikirku.
“Rara ! “,
tiba – tiba Rosa teman sekelasku menghampiri ku yang sedang membaca buku. “Iya,
ada apa?”, tanyaku heran. “Kamu masih sama Eza kan?”, tanyanya lagi. “Hmm..Iya!
Emang kenapa?”, tanyaku penasaran. “Eza udah jadian sama Via, Ra!”, katanya
yang membuatku terkejut. “Hah? Gak mungking laah! Itu kan cuman gossip belaka,
aku gak percaya itu !”, bantahku. “Ya udah kalau kamu gak percaya, kamu tanya
aja sendiri sama Eza atau Via !”, katanya sambil pergi meninggalkanku yang
terkejut, bingung, dan hancur ! :(
Sepulang sekolah, aku memutuskan
untuk mengajak Via ke sebuah kafe untuk dinner. Dan ia pun setuju. Sore
harinya, aku mencoba mengirim pesan pada Eza, yang sudah hampir beberapa minggu
ini tidak lagi menghubungiku. Maksudnya, untuk mencari kepastian tentang status
hubungan kami.
“Za, sebenernya kamu masih mau ngelanjutin hubungan kita gak sih?”
Setela beberapa jam ( sebelum aku
berangkat), ia pun membalas pesan tersebut.
“GAAAAAAAAAKKKKK !”
Dan, setelah membaca balasan
darinya, kalian pasti tahu apa yang aku rasakan. Rasanya seperti dijatuhkan
dari lantai 7. Terjun bebas ke bawah dan akhirnya jleb sakit dan saking
sakitnya, aku tidak merasakan lagi apa – apa selain merasakan cairan bening
yang membasahi pipi ku. Hatiku hancur berkeping – keping seperti piring yang
dijatuhkan dan tak bisa disatukan lagi.
Sabar, Ra ! Ini mungkin cobaan buat kamu.
Tuhan memberikan semua ini karena Dia tahu kalau Eza itu bukan lelaki yang
pantas buat kamu. Tuhan ingin kamu mendapatkan lelaki sejati yang dapat
memimpin kamu ke jalan yang benar. Berarti , Tuhan menyayangimu, Ra! Jangan
sedih karena lelaki yang udah nyakitin kamu, Ra ! Kamu cuman harus buktiin
kalau kamu bisa berdiri tanpanya. Tunjukin kalau kamu wanita yang kuat dan
tegar. Bersyukurlah pada Tuhan, Ra ! Karena Dia telah menjauhkanmu dengan
lelaki yang nggak baik buat masa depan kamu !
Hanya
kata – kata itu yang mampu menguatkanku hingga airmata ini reda. Aku tidak mau membuat
Via sedih karena melihat airmata kesedihan ku.
Tegar, Ra! Kamu pasti bisa !
Setelah bersiap – siap, aku
langsung berangkat menuju kafe tempat aku dan Via bertemu. Dan setelah aku
sampai, aku lihat dia sudah dating dan duduk di sebuah meja. Meja favorit kami
:’)
“Via !”, kataku. “Eh, udah datang
nih. Yuk, duduk! Kamu kenapa Ra? Kamu udah nangis kan? Tuh matanya merah”, kata
Via curiga. “Bukan, tadi di jalan aku kelilipan, eh aku kucek – kucek malah
jadi merah gini”, jawabku berbohong. “Aku tahu kamu bohong. Aku bisa tahu dari
cara bicara kamu yang gemetaran, dan aku juga tahu kalau kamu itu bukan orang
yang bisa bohong ! Ayo Rara, cerita sama aku, kenapa?”, paksanya.
“Eza…Eza….Dia udah gak ada lagi
hubungan sama aku ! “, jawabku terpaksa
“Hah ? Kenapa?!”, tanya nya pura
– pura tidak tahu gosip yang sedang beredar.
“Lho? Kok kamu malah nanya balik?
Sekarang aku tanya, kamu tahu gak kenapa dia mutusin aku?! Hah? Tau gak
kenapa?!”, kataku sewot, ternyata aku sudah termakan omongan orang lain
tentangnya, dan aku bukanlah orang yang bisa memendam amarah, kalau sudah tidak
sabar, segalanya pasti di frontal kan.
Via hanya menunduk, sadar kalau
aku sedang marah, sadar kalau aku sedang tidak stabil, sadar kalau aku sedang hancur, dan sadar kalau
dia juga bersalah.
“Jawab, Via ! Jawab! Kamu tahu
kan? Aku yakin kamu pasti tahu! “, paksaku sambil menangis.
“YA! AKU TAHU ! SEMUA ITU GARA –
GARA AKU, AKU YANG NGERUSAK HUBUNGAN KALIAN, AKU JUGA YANG NGERUSAK
PERSAHABATAN KITA ! OKE, AKU NGAKU AKU SALAH ! SEKARANG KAMU PUAS ?! “
“Kamu jahat ya, Vi ! Aku kira
kamu sahabat sejati aku, tapi ternyata?! Sekarang kita gak usah temenan lagi,
aku udah gak percaya sama kamu lagi ! Sekarang kamu pergi dari sini ! Pergi
gak?!”
“Oke, fine ! Aku pergi, aku juga
gak mau kenal lagi sama kamu ! Satu kata terakhir buat kamu “Maaf !”, katanya
sambil pergi meninggalkanku yang menangis.
Malam
itu merupakan malam terakhir aku berbicara dengan Via. Sejak kejadian itu,
sejak aku mutusin persahabatan aku dengan Via, dan sejak Eza mutusin hubunganku
dengannya, aku dan Via tidak pernah lagi bertemu. Kabarnya, Via pindah sekolah
ke Bandung, dan Eza juga pindah ke luar negeri, dari dulu, kami memang jarang
bertemu karena berbeda kelas. Dan sekarang, tanpa mereka, aku merasa hidup ini
tiada artinya. Orangtua ku bahkan belum pulang sampai sekarang. Mungkin, ini
adalah hadiah terindag di sweet seventeen ku :(
EPILOG
Sabtu, 27 April 2013
Untuk orang – orang yang ku cintai,
Di malam ini, aku hanya ingin menyampaikan
permitaan maaf ku untuk yang terakhir kalinya. Karena aku tau, aku bukanlah
orang yang sempurna untuk kalian, aku tau aku tak bisa menjadi apa yang kalian
inginkan.
Untuk itu, aku juga mengucapkan terima kasih
untuk kalian yang pernah mewarnai hidupku. Terima kasih untuk kalian yang
pernah menjadi bagian hidupku {} Dan saat
kalian membaca surat ini, mungkin kalian tak akan pernah melihat ku
lagi, karena aku tau, akan lebih baik jika aku tak ada di kehidupan kalian. :’(
Rara
Demikianlah
surat itu Rara tulis dengan darah merah menetes di kertasnya L Surat singkat yang ia tulis untuk orang –
orang yang ia cintai :(
THE END