Sabtu, 28 September 2013

SWEET SEVENTEEN



Mentari pagi bersinar, membangunkanku melalui jendela yang terbuka. 
Hari ini hari Kamis, tanggal 27 Maret 2012. Dan ini merupakan hari spesial bagiku. Karena hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-17. Aku berharap di hari ulang tahunku, aku akan mendapat ucapan “selamat ulang tahun” dari seseorang, dan mendapatkan hadiah terindah. Namun, hingga pagi ini, tidak ada satu pun pesan yang masuk ke handphone ku. Aku pun melupakan hal itu dan segera bersiap – siap untuk pergi ke sekolah. Setelah siap, aku pun pergi ke ruang makan, aku hanya sarapan sendiri, dengan nasi goreng lagi tentunya. Ibu dan Ayah ku sedang tidak ada di rumah, mereka sedang melaksanakan tugasnya di Paris, sebagai dosen. Aku berharap, mereka juga mengucapkan “selamat ulang tahun” kepadaku walau hanya lewat pesan atau video call, tapi mereka bahkan tidak ingat ini hari ulang tahun anaknya sendiri.

“Rara !”, panggil seseorang di belakangku. Aku menoleh, “Eh..Via. Ada apa Vi? Kok tiba – tiba mangil aku?”. “Aku cuman mau ngucapin happy birthday sama kamu. Semoga kamu makin cantik, baik, rajin, pinter, sholehah, dan pastinya longlats sama Eza”, jawab Via, sahabatku. “Hmm..kayaknya yang terakhir aku gak yakin deh. Soalnya..”, tiba – tiba Via memotong kata – kataku. “Soalnya kenapa? Ayo, cerita ke aku, Ra! Mungkin aku punya solusi buat masalahmu”. “Itulah gunanya sahabat, mau mendengarkan masalah sahabat yang lainnya. Aku beruntung punya kamu, Vi. Jadi….”, aku pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kalau akhir – akhir ini Eza seperti menghindar dariku. Dia bahkan sudah 3 hari ini tidak mengabariku, bahkan di hari ulang tahun pacarnya pun, dia tetap tidak mengabariku. Di sekolah, kami juga tidak bertemu, karena kami memang tidak sekelas.Sudah aku cari dia ke setiap penjuru sekolah juga tidak ada. Ditambah dengan sikap kedua orangtua ku yang hanya mementingkan diri mereka sendiri. Dan kini, hanya Via lah yang aku punya. L L
Setelah aku bercerita, Via berkata padaku “ Sabar, Vi. Tuhan mungkin sedang mengujimu. Karena dia tau, kamu orang yang tegar, dan dia menyayangimu. Sekarang, kamu enjoy aja yah! Kan masih ada aku :’)”
“Iya, Vi. Makasih ya! {}”
*************************************Sepulang sekolah, aku mencoba mengirim pesan pada Eza.
“Za, apa kabar? Kamu inget gak ini hari apa?”
“Za, bales dong! Punya pulsa gak? Kalau gak punya ngomong aja, nanti aku isi”
“Halooo, ada orang?”
Berkali – kali aku mengirim pesan, namun tak satu pun yang ia balas. Aku jadi semakin bingung daaaan galau L Aku coba telpon, namun tidak ia angkat. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengirimnya pesan di Facebook atau Twitter. Dan ternyata, dia juga sedang online di Facebook. Aku langsung mengirimya pesan.
“Za, kamu baik – baik aja kan? Kenapa aku sms kamu gak ngebales? Aku telpon, kamu  gak ngangkat. Sebenernya kamu kenapa sih akhir – akhir ini? L
“Aku baik- baik aja Ra, kamu tenang aja. Nanti lagi ya ngobrol nya, aku lagi sibuk nih”
“Emang kamu lagi apa sih?”
“Aku lagi googeling sambil chat sama Via”
“Via? Siapa dia? Via Aryanti sahabat aku?”
“Bukan ! Tapi Via sepupu aku, nanti kan aku mau liburan sama keluarga mereka, nah kita lagi ngomongin tempat apa aja yang cocok buat liburan kita. Gitu Ra, kamu tenang aja deh, udah yaa…aku off nih. Bye!”               

Hanya itu yang ia katakan padaku. Sangat singkat, padat, dan jelas. Tapi yang penting, aku hanya berharap, Via yang ia katakan bukanlah Via sahabatku. Positif thinking aja, Ra, Eza pasti cowok baik – baik, Via juga sahabat yang baik, jadi gak mungkin kan mereka ngekhinatin kamu, Ra! :’), pikirku.

Hari – hari terus berlalu, dan Eza juga tidak lagi memberi kabar padaku. Orang tua ku juga belum pulang.  Mereka orang sibuk, mereka sibuk juga pasti untuk kesejahteraan anaknya. Jadi, tunggu saja mereka pulang , Ra!, pikirku. 
Dan, aku juga agak jauh dengan Via, karena dia sibuk dengan ekstrakurikulernya mungkin. Di kelas ia juga tidak banyak bercerita denganku. Huft… :( 
 
Suatu hari, teman – teman di kelas ku sibuk menggosipkan Via dan Eza. Katanya, Via dan Eza sudah jadian, sedangkan aku ? Diputuskan saja belum, status nya juga masih pacarnya, tapi HTS ! Sama aja ! L Aku tidak menanggapi gossip itu, aku pikir, itu hanya kabar burung yang tidak jelas asal – usulnya. Kalau aku tahu siapa biang gossip nya, pasti akan aku masukan dia ke dalam sumur ! Arrrghh……..!, pikirku.

“Rara ! “, tiba – tiba Rosa teman sekelasku menghampiri ku yang sedang membaca buku. “Iya, ada apa?”, tanyaku heran. “Kamu masih sama Eza kan?”, tanyanya lagi. “Hmm..Iya! Emang kenapa?”, tanyaku penasaran. “Eza udah jadian sama Via, Ra!”, katanya yang membuatku terkejut. “Hah? Gak mungking laah! Itu kan cuman gossip belaka, aku gak percaya itu !”, bantahku. “Ya udah kalau kamu gak percaya, kamu tanya aja sendiri sama Eza atau Via !”, katanya sambil pergi meninggalkanku yang terkejut, bingung, dan hancur ! :(

Sepulang sekolah, aku memutuskan untuk mengajak Via ke sebuah kafe untuk dinner. Dan ia pun setuju. Sore harinya, aku mencoba mengirim pesan pada Eza, yang sudah hampir beberapa minggu ini tidak lagi menghubungiku. Maksudnya, untuk mencari kepastian tentang status hubungan kami.

“Za, sebenernya kamu masih mau ngelanjutin hubungan kita gak sih?”

Setela beberapa jam ( sebelum aku berangkat), ia pun membalas pesan tersebut.

“GAAAAAAAAAKKKKK !”

Dan, setelah membaca balasan darinya, kalian pasti tahu apa yang aku rasakan. Rasanya seperti dijatuhkan dari lantai 7. Terjun bebas ke bawah dan akhirnya jleb sakit dan saking sakitnya, aku tidak merasakan lagi apa – apa selain merasakan cairan bening yang membasahi pipi ku. Hatiku hancur berkeping – keping seperti piring yang dijatuhkan dan tak bisa disatukan lagi.

Sabar, Ra ! Ini mungkin cobaan buat kamu. Tuhan memberikan semua ini karena Dia tahu kalau Eza itu bukan lelaki yang pantas buat kamu. Tuhan ingin kamu mendapatkan lelaki sejati yang dapat memimpin kamu ke jalan yang benar. Berarti , Tuhan menyayangimu, Ra! Jangan sedih karena lelaki yang udah nyakitin kamu, Ra ! Kamu cuman harus buktiin kalau kamu bisa berdiri tanpanya. Tunjukin kalau kamu wanita yang kuat dan tegar. Bersyukurlah pada Tuhan, Ra ! Karena Dia telah menjauhkanmu dengan lelaki yang nggak baik buat masa depan kamu ! 

Hanya kata – kata itu yang mampu menguatkanku hingga airmata ini reda. Aku tidak mau membuat Via sedih karena melihat airmata kesedihan ku.  Tegar, Ra! Kamu pasti bisa !

Setelah bersiap – siap, aku langsung berangkat menuju kafe tempat aku dan Via bertemu. Dan setelah aku sampai, aku lihat dia sudah dating dan duduk di sebuah meja. Meja favorit kami :’) 

“Via !”, kataku. “Eh, udah datang nih. Yuk, duduk! Kamu kenapa Ra? Kamu udah nangis kan? Tuh matanya merah”, kata Via curiga. “Bukan, tadi di jalan aku kelilipan, eh aku kucek – kucek malah jadi merah gini”, jawabku berbohong. “Aku tahu kamu bohong. Aku bisa tahu dari cara bicara kamu yang gemetaran, dan aku juga tahu kalau kamu itu bukan orang yang bisa bohong ! Ayo Rara, cerita sama aku, kenapa?”, paksanya.

“Eza…Eza….Dia udah gak ada lagi hubungan sama aku ! “, jawabku terpaksa
“Hah ? Kenapa?!”, tanya nya pura – pura tidak tahu gosip yang sedang beredar.
“Lho? Kok kamu malah nanya balik? Sekarang aku tanya, kamu tahu gak kenapa dia mutusin aku?! Hah? Tau gak kenapa?!”, kataku sewot, ternyata aku sudah termakan omongan orang lain tentangnya, dan aku bukanlah orang yang bisa memendam amarah, kalau sudah tidak sabar, segalanya pasti di frontal kan.

Via hanya menunduk, sadar kalau aku sedang marah, sadar kalau aku sedang tidak stabil,  sadar kalau aku sedang hancur, dan sadar kalau dia juga bersalah.

“Jawab, Via ! Jawab! Kamu tahu kan? Aku yakin kamu pasti tahu! “, paksaku sambil menangis.
“YA! AKU TAHU ! SEMUA ITU GARA – GARA AKU, AKU YANG NGERUSAK HUBUNGAN KALIAN, AKU JUGA YANG NGERUSAK PERSAHABATAN KITA ! OKE, AKU NGAKU AKU SALAH ! SEKARANG KAMU PUAS ?! “
“Kamu jahat ya, Vi ! Aku kira kamu sahabat sejati aku, tapi ternyata?! Sekarang kita gak usah temenan lagi, aku udah gak percaya sama kamu lagi ! Sekarang kamu pergi dari sini ! Pergi gak?!”
“Oke, fine ! Aku pergi, aku juga gak mau kenal lagi sama kamu ! Satu kata terakhir buat kamu “Maaf !”, katanya sambil pergi meninggalkanku yang menangis.

Malam itu merupakan malam terakhir aku berbicara dengan Via. Sejak kejadian itu, sejak aku mutusin persahabatan aku dengan Via, dan sejak Eza mutusin hubunganku dengannya, aku dan Via tidak pernah lagi bertemu. Kabarnya, Via pindah sekolah ke Bandung, dan Eza juga pindah ke luar negeri, dari dulu, kami memang jarang bertemu karena berbeda kelas. Dan sekarang, tanpa mereka, aku merasa hidup ini tiada artinya. Orangtua ku bahkan belum pulang sampai sekarang. Mungkin, ini adalah hadiah terindag di sweet seventeen ku :(

EPILOG
Sabtu, 27 April 2013

Untuk orang – orang yang ku cintai,
Di malam ini, aku hanya ingin menyampaikan permitaan maaf ku untuk yang terakhir kalinya. Karena aku tau, aku bukanlah orang yang sempurna untuk kalian, aku tau aku tak bisa menjadi apa yang kalian inginkan.
Untuk itu, aku juga mengucapkan terima kasih untuk kalian yang pernah mewarnai hidupku. Terima kasih untuk kalian yang pernah menjadi bagian hidupku {} Dan saat  kalian membaca surat ini, mungkin kalian tak akan pernah melihat ku lagi, karena aku tau, akan lebih baik jika aku tak ada di kehidupan kalian. :’(
                                                Rara
Demikianlah surat itu Rara tulis dengan darah merah menetes di kertasnya  L Surat singkat yang ia tulis untuk orang – orang yang ia cintai :(



                        THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar