Kamis, 07 Maret 2013

Setitik Harapanku



Fajar pagi bersinar.Aku bersiap dengan seragamku.Dengan topi di kepala dan dasi di leherku.Aku hendak berangkat ke sekolah.Sekolah yang tak banyak memberikanku kebahagiaan.Yang aku dapatkan hanyalah penderitaan.Aku tinggal disebuah desa.Sekolahku berada sekitar sepuluh kilometer dari rumah.Namun,sekolah itu sudah termasuk kedalam kota kecil.Berbeda dengan rumahku,yang masih dianggap kampung terpencil.

Aku mengayuh sepeda.Setiap hari ku lewati jalan berliku bersama sepeda yang setia menemaniku,walau kini sudah tidak layak dibilang sepeda.Jalan ini sudah tidak aneh bagiku.Jalan yang kadang membuatku sakit badan atau pegal-pegal.Terlintas dipikiranku sebuah pertanyaan seperti,”Mengapa pemeritah tidak memperbaiki jalan ini? Bukannya mereka kaya? Bukankah mereka bergelimangan harta? Atau mereka tidak tahu akan hal ini?”. Tapi,aku tidak memikirkannya terlalu jauh.Karena aku hanyalah seorang anak SMP Kelas VII.,yang baru saja menjalani sekolah selama tiga bulan.Namaku Obi.Lengkapnya Muhamad Haerobi.Nama yang singakat,pikirku.

Banyak orang yang bertanya,”Mengapa aku bersekolah jauh-jauh di kota kecil?” Beasiswa telah membawaku ke sekolah buruk itu! Tapi,aku cukup bangga dengan prestasiku.Bukan bangga karena masuk ke sekolah favorit.

Aku sampai di sekolah. Ku parkir sepedaku bersama sepeda-sepeda yang lainnya.Capek juga mengayuh sepeda sejauh sepuluh kilometer,keluhku dalam hati.Tapi,tak apalah! Ini demi mendapatkan sebuah ilmu.Tentunya juga untuk membuat orang lain bangga.Terutama kakekku.Ya,kakek! Selama ini aku tinggal bersama Kakek.Hanya Kakek yang setia menemaniku,memberikanku saran,serta mengerti perasaanku.Kedua orangtua ku sudah tidak ada semenjak sepuluh tahun yang lalu.Itu juga aku ketahui dari kakek.Karena ketika mereka meninggal,aku baru saja menginjak umur dua tahun.Oh,sudahlah! Itu tidak pentinh.Yang penting,sekarang aku hendak memasuki ruangan kelas.

Baru saja aku melangkah didepan kelas untuk menuju banguku,tatapan sinis mengikuti langkahku.Entah siapa dan entah kenapa.Aku tak mengerti orang itu selalu saja menatapku sinis ketika aku berpapasan muka dengannya.Sedangkan aku tak pernah bertanya sekalipun kepada dia.Apalagi untuk mengganggu hidupnya.Lalu apa salahku? Hal inilah yang selalu menganjal dibenakku.Yang membuat aku tidak betah bersekolah disini.Yang selalu memberikanku penderitaan.Bukan hanya tatapan sinis,orang itu juga sering mengejekku,mentertawakanku dan hal lainnya bersama temannya.Aku bingung memikirkan hal itu.Ya sudahlah!

Aku menyimpan tas di kursiku.Dia tetap menatapku.Lalu aku memeranikan diri untk bertanya karena merasa tak enak diperhatikan seperti itu.

”Ada masalah?”tanyaku pelan dengan diiringi ttapan sinis seperti dirinya.Sebelumnya,aku tak pernah bertanya seperti itu.Karena aku merasa biasa saja.

”Tidak!”jawabnya pendek sambil memalingkan muka.Sekarang,dia berhenti menatapku.

                                                            ****

”Anak-anak,apa kalian mempuyai cita-cita?”tanya Bu Guru yang sedang membahas tentang cita-cita.

“Punya!!!”jawab anak-anak serempak.

”Kalau begitu,Ibu mau tahu apa saja cita-cita kalian beserta alasannya? Di mulai dari sana,ya!”perintah Bu Guru.Kemudian semua anak menyebutkan citaa-citanya.Semua beragam.Ada yang ingin menjadi perawat,insinyur,direktur,dan lain-lain.Yang pasti,semua mengagumkan.

Kini tiba giliranku menyebutkan cita-citaku.Dengan semangat aku menjawab.

”Aku ingin jadi presiden,Bu! Setidaknya,aku ingin menjadi wakil rakyat!”ucapku.Seketika murid yang ainnya mentertawakanku.Tertawa.Keras.Bahkan orang yang tadi pagi memberikan tatapan sinis.Sepertinya,dia baru saja meihat sebuah komedi.Aku bertanya dalam hati,Apakah itu salah? Keheranan.Aku memandang mereka keliru.Tapi,Bu Guru memberhentikan tawa mereka.

”Sudah,diam! Obi,mengapa kamu ingin menjadi presiden?”tanya Bu Guru lembut kepadaku.

”Aku ingin menjadi presiden yang bijaksana,Bu.Apalagi,jika kelak nanti cita-citaku terlaksana,aku ingin memperbaiki jalan menuju rumahku.Yang hancur rusaknya.”ucapku tenang.Yang lain kembali tertawa.Lebih dari yang tadi.Bahkan ada beberapa yang berkata,”Kau tak akan pernah menjadi presiden!” Ah,tapi sudahlah! Bu Guru kembali bertanya kepada murid yang lainnya.

Hari-hari di sekolah berhasil dilewati.Meski dengan tertawaan orang lain.

                                                            ***

Ku simpan sepedaku.Lelah.Hanya itu yang terasa setelah mengayuh sepeda sejauh sepuluh kilometer lagi.Aku langsung bergegas mandi.Tak kuat dengan hawa panas.Setelah selesai mandi,ku ambil buku dan peralatan tulis lainnya.Ku dudukkan badan di teras rumah.Ku kerjakan PR dengan sigap.Meski terkadang susah.Kegiatan rutin ini biasa aku lakukan sambil menunggu Kakek pulang dari sawah.Kakek? Kemana Ibuku atau Ayahku?? Hah... Ibu dan Ayahku sudah meninggal ketika aku berusia 2 tahun.Kecelakaan kereta itu selalu membuatku merinding.Tapi,harus bagaimana lagi? Hal itu tak mungkin bisa aku lupakan begitu saja,meski aku berusaha melupakannya.Ya,kejadian itu terjadi beberapa tahun silam.Waktu itu,aku bersama kedua orang tuaku ingin berkunjung ke rumah Kakek.Tapi naas.Semuanya menjadi air mata.Kereta yang kami tumpangi mengalami kecelakaan.Entah apa penyebabnya,aku kurang tahu.Aku selamat dari tragedi itu.Namun orang tuaku tidak.Mereka meninggalkan ku untuk selamanya dan tak akn pernah kembali.Jadilah sekarang aku diasuh oleh Kakek.

Kakek datang membawa cangkulnya.Seperti biasa,Kakek selalu saja terlihat kelelahan.Aku khawatir terhadap Kakek.

”Kakek capek? Biar Obi ambilkan minum,ya?”tanyaku pada Kakek.

”Tak usah! Habis ini,Kakek mau menggarap sawah milik Pak Kardi.”tolak Kakek.

Aku tak bisa berbuat apa-apa.Mungkin itu memang kemauan Kakek.Ya sudahlah....

                                                            ***

Gelap.Lampu mati pada malam hari.Hanya ada sebuah damar yang tidak terlalu terang di rumah ini.Aku takut.Biasanya,pada situasi seperti ini aku selalu bercengkrama dengan Kakek.Berbagi cerita suka dan duka,pengalamanku di sekolah,pengalaman Kakek ketika mencangkul sawah,dan yang lainnya.Semuannya seru!!

”Kek,apa Obi tak layak menjadi wakil rakyat?”tanyaku tiba-tiba.Aku sangat penasaran dengan hal itu.Kakek tersenyum.

”Kata siapa?”

”Orang bilang....”kata-kataku terputus.Aku tak kuat melanjutkan kata-kata itu.

”Tak usah dengarkan kata-kata orang lain.Obi pasti bisa,kok.Suatu saat nanti,Obi bisa memperbaiki jalan menuju sekolah.”jelas Kakek menghiburku.Aku mengangguk dan tersenyum.

”Sepertinya ada benarnya juga.”batinku.

                                                            ***

4 bulan berlalu.Aku menjalani hari-hari di sekolah.Selama 4 bulan juga aku tak pernah mempunyai teman.Walaupun teman sebangku.Entahlah! Aku tak mengerti pada teman-teman sekelasku.Apa salahku hingga mereka menjauhiku semenjak aku datang ke sekolah ini? Oh...Tuhan... Aku bosan!! Aku lelah harus menerima semua tatapan sinis itu.Aku capek untuk terus bertanya-tanya.Apa ini yang disebut takdir? Mengapa takdir ini begitu menyakitkan? Aku tidak mempunyai orang tua semenjak umur 2 tahun,aku dibenci teman-temanku semenjak aku bersekoalah disini,apa itu yang disebut takdir?!

Itulah kutukan-kutukanku kepada Tuhan.Sebenarnya,aku tak ingin berbuat seperti itu.Namun itu sangat melelahkan! Aku harus menanggung beban derita.Aku berhenti menyalahkan Tuhan.Mungkin memang ini takdir.Terima saja.



Ujian Akhir Semester sudah selesai.Kini,tinggal pebagian raport.Kakek datang ke sekolah.Seusai menerima raport,Kakek menghampiriku dengan senyum mengembang.Sungguh terlihat sangat bahagia Kakek saat ini.Aku berharap senyum itu selalu ada pada Kakek.Kakek memperlihatkan raport itu.Kubuka dan hasilnya tidak terlalu mengecewakan.Aku mendapat peringkat 1.Mungkin ini yang disebut takdir membahagiakan? Aku percaya! Kini,aku tak akan menyalahkan Tuhan lagi.



Liburan sekolah sudah usai.Aku kembali menjalani rutinitas Sekolah.Kini,aku merasa sangat bahagia.Bagaimana tidak? Aku berhasil membuktikan pada mereka yang memandangku sinis bahwa aku bisa menjadi juara.

Tak ada yang berubah setelah liburan selesai.Mereka tetap memandangku sinis.Bahkan kini lebih sinis.Dengan cacian merekaa,aku tak kuat mendengarnya.

”Hei! Kau tak usah bangga dengan peringkat mu itu.Aku tetap yang berkuasa disini!”

”Dasar anak kampung! Udah jadi peringkat 1 aja udah berani senyum sendiri!”

Itulah kata-kata yang sering mereka ucapkan.Aku tak mengerti.Sungguh tidak.Apakah tersenyum saja dilarang? Apakah tersenyum itu harus mengeluarkan uang sehingga jika kita tersenyum seolah-olah kita paling kaya? Menurtku tidak! Agama juga menerangkan bahwa senyum itu ibadah.Biarkan sajalah! Mungkin mereka belum mengerti.Hingga nanti suatu saat semua akan jelas dimata mereka.

                                                            ***

Sudah tiga tahun aku bersekolah disini.Artinya,aku sudah menjadi siswa kelas sembilan.Peringkat ku tidak berubah.Begitu juga tatapan itu.Tak ada yang berubah dari mereka.

Tiba saatnya saat keadaan menjadi air mata lagi.Kakek meninggalkanku selamanya.Aku sedih.Mungkin lebih dari sedih.Coba kau bayangkan! Aku kehilangan Kakek yang selama ini menemaniku.Aku sudah tak tahu harus kepada siapa lagi aku bergantung.Sedangkan aku masih sebagai siswa kelas sembilan yang sebentar lagi akan ujian.

Seorang pengusaha datang menemuiku ketika aku sedang menangisi kepergian Kakek.

”Namamu Obi?”tanyanya.Aku terkejut.Tapi aku mengangguk.

”Lebih baik kau ikut saya ke kota.”pintanya tiba-tiba.

”Anda siapa?”

”Kau tak tahu? Ini Om mu! Om Erwin dari Bandung.”

Benarkah? Benarkah dia Om ku? Aku merasa tak mempunyai saudara sekaya pengusaha itu.Aku tersentak.Ternganga.Mengernyitkan dahi.Pertanda tak mengerti.

”Aku kakak dari almarhum ayahmu.Waktu almarhum ayahmu meninggal,tadinya aku ingin membawamu ke Bandung.Tapi,Kakek melarangnya.Dan meminta agar kau diasuh olehnya.Hingga saat kau berumur 2 tahun itu aku tak pernah datang kesini lagi menemui Kakek.”jelas pengusaha itu.Ternyata dia benar.Dia Om Erwin.Kakak dari almarhum ayahku.Aku percaya itu.Aku mengangguk setuju untuk pergi ke Bandung.

                                                            ***

Aku berpindah sekolah semenjak itu.Ujianku belum beres.Segera saja akau bersekolah di Bandung agar aku dapat mengikuti ujian.Rasanya bersekolah di kota cukup aneh.Murid-muridnya mengikuti trend terbaru.Meskipun sudah bersekolah di Bandung,tetap saja aku mendapatkan tatapan sinis.Mungkin mereka menganggapku anak kampung.Biarkan saja lah! Aku sudah tidak peduli.

Beberapa ujian sudah akau tempuh.Dari mulai beberapa Try Out,ujian praktek,ujian sekolah dan ujian nasional.Mudah-mudahan hasilnya memuaskan.Aku bersekolah disini hanya untuk menamatkan sekolah menengan pertama saja.Dan mungkin setelah lulus dari sekolah ini aku akan melanjutkan pendidikan di SMA sekitar Bandung.

                                                            ***

Hari ini adalah hari yang sangat menegangkan bagiku.Hari yang akan menentukan nasibku selanjutnya.Ya,saat ini hari dimana aku akan menerima hasil keluusan.Setiap siswa memasuki ruangan kelasnya masing-masing.Kemudian kami semua diberi sebuah amplop.Ketika aku membukanya,tertera sebuah tulisan ”LULUS”.Betapa bahagianya aku ketika aku melihat tulisan itu.Terimakasih Tuhan...

Aku pulang dengan membawa sebuah kabar gembira.Ku hampiri Om Erwin yang sedang duduk di teras rumah.

”Assalamu’alaikum,Om...”aku memberikan salam dengan sebuah senyum.

”Wa’alaikumsalam.Kok,udah pulang?”tanya Om Erwin heran.

”Iya,Om.Kan,hari ini cuman dibagi hasil kelulusan saja.”

”O,ya? Bagaimana hasilnya?”

”Aku lulus!!!!!”

Disana kami bahagia.Kemudian Om Erwin merencanakanku untuk masuk ke SMA Favorit.

                                                            ***

Aku berhasil diterima di SMA Favorit.Dan ulai sekarang,akan ku buktikan kepada semua orang yang telah menatapku sinis.Bahwa aku bisa menjadi orang yang berguna.Aku bisa menjadi seorang wakil rakyat!!

Tanpa terasa,aku sudah lulus dari SMA.Kini,aku berkuliah di salah satu universitas di Bandung.Aku mengambil jurusan IPS.Nilai-nilaiku terkesan bagus.Aku banyak aktif diberbagai organisasi.Dan mungkin sebentar lagi aku akan mewujudkan cita-citaku.

                                                            ***

Aku mengikuti pemilihan wakil rakyat.Sekarang,umurku sudah menginjak 30 tahun dan aku sudah mempunyai sebuah keluarga.Om Erwin sudah ku anggap sebagai ayahku sendiri.Dia yang selalu menyemangatiku untuk terus berusaha.Kalian tahu tidak? Dari pemilihan wakil rakyat itu aku berhasil lolos dan menempati sebuah kursi DPR.Hari-hariku banyak ku lalui dengan rekan-rekan lainnya yang juga menjabat sebagai wakil rakyat.Kami sering berdiskusi untuk merumuskan suatu masalah.Akhirnya..cita-citaku tercapai.Memang didunia ini tidak ada yang tak mungkin!!

                                                            ***

Tiga tahun aku menjabat sebagai wakil rakyat.Aku melihat sebuah berita mengagetkan.Ada beberapa wakil rakyat yang terlibat korupsi.Sepertinya aku kurang mengenalnya.Tapi,berdasarkan foto yang berada di televisi,aku pernah melihatnya.Aku yakin itu pasti dia!!,gumamku dalam hati.Ya,dia adalah orang yang selalu menatapku sinis ketika aku bersekolah di kampung.Tak kusangka ternyata dia menjadi seorang koruptor.Aku benar-benar kecewa kepada dia...  


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar